Total Tayangan Halaman

Selasa, 11 Februari 2014

EMPAT MINGGU SETELAH KEPERGIAN KAMU.




                 Aku menulis ini ketika aku sadar tak akan ada yang bisa dikembalikan seperti dulu lagi. Aku menulis ini ketika aku berpikir bahwa disana kamu pasti telah menemukan seseorang yang baru. Seseorang yang bisa mencintaimu,memahamimu,dan mengerti kamu lebih baik dari pada aku. Rendahnya kepekaanku dan tingginya keegoisanku membuat kamu pergi dan menjauh. Seandainya,bisa kuputar kembali waktu,aku tidak akan membiarkanmu pergi dan akan menahanmu sampai Tuhan bosan melihat usahaku.
Aku mulai mencintaimu,mulai membiasakan diri akan kehadiranmu,dan mulai percaya yang kurasakan juga adalah cinta. Disetiap kausapa aku,dengan sapaan lembutmu yang menghangatkan aliran darahku ,aku percaya ini cinta. Dulu aku tak takut mengartikan kata-katamu dan segala kalimat-kalimat manis itu adalah salah satu respon bahwa kau juga punya perasaan yang sama. Beberapa minggu yang lalu aku begitu percaya diri dan begitu memercayai bahwa kamu hanya miliki aku, aku satu-satu nya di hatimu. Namun, ternyata akupun bisa salah. Salah mengartikan isyarat yang kau berikan. Harusnya aku menyadari bahwa terlalu tinggi jika mengharapkan kamu berada disisiku,terlalu mimpi jika menginginkan kamu menjadikanku pertama dalam hatimu,dan terlalu tolol menganggap perhatianmu yang ternyata tak hanya diberikan untukku.
Pada akhirnya aku sadar aku hanyalah pelarian tempat kamu meletakkan kecemasan. Aku hayalah persinggahan ketika kamu telah lelah untuk berjalan. Aku Cuma sosok yang kaudatangi ketika kaupikir kekasihmu tak mampu memahami keinginanmu. Betapa bodohnya aku bisa begitu mencintai seseorang yang bahkan meletakkan hatinya pada banyak orang—hati yang katanya hanya kamu berikan untukku.

             Dulu, aku tak ingin mendengar semua perkatan teman-temanku, aku mencoba menutup telinga pada setiap bisikan yang mengatakan kamu selalu melompat dari satu hubungan  ke hubungan  yang lain,berpindah dari satu pelukan ke pelukan yang lain,dan memberi hati pada banyak orang yang kau pikir bisa kaujadikan boneka kecintaanmu. Dulu,aku tak ingin percaya itu, dan kebodohanku semakin lengkap,ketika ternyata kamu memang seperti yang mereka bilang. Pengkhianat. Aktor paling cerdas bermain akting. Main hati.
Aku tak menyangka jika  orang yang begitu halus membisikkan cinta,begitu manis mengucapkan rindu,,dan begitu mudah berkata sayang adalah orang yang seharusnya dari awal tidak kupercaya gerak-geriknya. Kamu tak tahu betapa aku begitu tergoda akan kehadiranmu. Kamu tak sadar betapa aku inginkan sebuah penyatuan,meskipun kita berbeda.kamu tak paham betapa cinta mulai mengetuk pintu hatiku dan aku mulai mengizinkan kamu berdiam disana.

                Sungguh bodoh mengapa begitu mudah menjatuhkan air mata untuk kamu yang tak pernah menangisiku? Mengapa rindu begitu sialan karena menjadikanmu sosok yang paling sering kusebut dalam do’a? Mengapa cinta begitu tak masuk akal ketika perkenalan singkat kita ternyata berujung pada hal yang tak kuduga? Kau tak tahu betapa sulitnya melupakan perasaan yang sudah melekat, betapa tidak mudahnya menghilangkan kamu dari hati dan otakku. Cinta ini datang begitu mudah dan entah mengapa membenci menjadi begitu susah.
Kalau kau ingin tahu betapa dalam perasaanku,cinta ini seperti air laut yang enggan surut. Aku telah tenggalam,sementara kamu yang berada di pesisir pantai hanya bisa melambaikan tangan dan menertawakan kesesakanku. Apa yang bisa kau anggap lucu dari perasaan ini? Mengapa kau begitu mudah menjadikan perasanku sebagai candaan yang kau pikir bisa membuatku tertawa?
Sinaran pesonamu membutakan segalaku.begitu mudah aku terjebak bayang-bayang yang kupikir nyata. Begitu gampangnya aku terjerumus pada kesemuan yang tak pernah jadi kenyataan. Harus kularikan kemana cinta yang makin dalam ini? Harus kubuang kemana rindu yang tiba-tiba sering berujung air mata ini? Haruskah aku bilang padamu,dengan  mata yang sembab,dengan kerudung  yang berantakan,dengan wajah yang begitu lelah,hanya untuk memintamu kembali?

                Pertanyaan tentang perasaanku telah terjawab meskipun tak kau jawab secara langsung. Kau tak punya perasaan sedalam yang ku berikan,kau tak merindukanku sesering yang kulakukan,dan kau tak ingin menjadikanku yang pertama. Ah,pernahkah kaurasakan menjadi sosok yang selalu diletakkan dinomor sekian? Yang tetap mencintai walau disakiti? Yang tetap mengabdi walau dilukai?
Seandainya semua bisa kembali seperti dulu lagi. Seandainya rangkul pelukmu masih sehangat yang kurasakan. Mungkin aku tak akan sesedih ini,tak akan seberantakan ini,dan tak akan segila ini.
Kalau kau ingin pergi,maka pergilah. Tapi,berjanjilah padaku: aku adalah perempuan yang terakhir kau sakiti. Setelah ini pergilah pada ibumu dan cintai beliau dengan ketulusan sehingga kau bisa belajar mencintai perempuan lain dengan ketulusan yang sama. Katakan padaku,kau akan menganggap kata sayang adalah kata yang sakral sehingga takkan kamu ucapkan hanya untuk menyakiti perasaan seorang perempuan. Berjanjilah padaku,setelah ini kau akan benar-benar pergi mencari perempuan baru untuk kau beri kebahagiaan bukan tangisan. Katakan padaku jika kau tak mampu melakukan semua hal itu,aku bisa bantu kamu tapi,kamu kembali dan mau kuajak saling memahami kembali.
Suatu saat nanti kita akan bertemu dengan kebahagiaan masing-masing. Kau merangkul kekasih barumu dan memperkenalkannya padaku. Aku menggenggam erat  jemari kekasihku yang berhasil menghapus mendung dihari-hariku. Lalu,kita menertawakan masa lalu,betapa dulu aku dan kamu pernah begitu lucu.
Kemudian lukaku bisa kau jadikan materi stand up comedy-mu tertawakan aku sepuasmu. Setelah itu kumasukkan kau dalam sebuah tulisan kusiksa kamu sampai jera,ku biarkan  kau jadi tokoh yang tertawa lebih dulu tapi menangis sekencang-kencangnya di akhir cerita.
Terima kasih untuk setiap tawa yang kau titipkan pada setiap candaanmu di ujung malam. Sekarang aku sadar  betapa sosok yang pernah membuatku tertawa paling kencang adalah pria yang bisa membuatku menangis paling kencang.

cr- blogger dwitasaridwita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar